Literary Interpretation of The Qur’an; A study of Amin al-khuliis Thought

Mohammad Nur Kholis Setiawan
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1998.3661.89-105

Abstract


Metode para ahli tafsir dalam menafsirkan Al-Qur'an berbeda antara satu dengan lainnya.  Masing-masing memiliki kelebihan dan sudah barang tentu mengandung   kelemahan.  Metode komprehensif hingga hari ini masih merupakan cita-cita yang belum dapat terealisir.  Padahal umat tengah   menanti hasil tafsir komprehensif terhadap Al-Qur'an.  Dalam makalah ini, Nur Kholis Setiawan menawarkan metode literer Amin Al- Khūli untuk menyingkap makna Al-Qur'an.  Sulit memahami makna yang sebenarya dari ayat-ayat Al-Qur'an tanpa menerapkan metode literer, seperti   yang diusulkan    oleh Al-Khūli ini.  Al- Khūli menganggap Al-Qur'an sebagai kitab al-'arabiyya al-akbar.  Kalau   Al-Qur'an dianggap sebagai kitab suci berbahasa Arab, maka   konsekuensi logisnya adalah bahwa Al-Qur'an harus didekati dengan ilmu bahasa Arab dan sastranya untuk dapat memahami makna yang sebenarnya, yang disebut Al- Khūli sebagai pendekatan literer. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk menyingkap pesan Al-Qur'an dari dalam (intrinsik) dan menolak pengaruh pemahamana dari luar. Konsisten dengan pendekatan yang ia kemukakan, Al-Khūli menolak tafsir 'ilmī yang tidak ada relevansinya dengan aspek bahasa dan sastra (adabī). Metode Al-Khūli ini kemudian   diterapkan oleh muridnya, yang kemudian menjadi istrinya, yaitu 'Ā'ishah   'Abd Rahman, yang dikenal dengan nama samarannya Bint al-Shāti'.  Ia menulis dua jilid tafsir Al-Qur'an atas surat-surat pendek yang berjudul al-Tafsīr al-Bayānī li al-Qur'an al-karim dengan metode literer Amin Al- Khūli.

 


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 Mohammad Nur Kholis Setiawan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.