Ẓāhira Ḥaraka al-Ṣhibān al-Nahḍīyya al-Fikrīyya Dirāsah an Majmu’I al-Dirāsāt al-‘Islāmīyya al-‘Itimā’īyya (LKiS) bi Yogyakarta

M Mahasin
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1997.3560.166-181

Abstract


In 1989 a group of students in Yogyakarta, who were brought up in the traditional Islam, managed to arrange several meetings to discuss some issues of Islam and especially Nahdlatul UIama. The success of the meetings pushed them to establish an institute wherein they could realize their dreams of the amelioration of the condition in which they and the other children of Nahdlatul Ulama live. Thus they stablish LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial or Institute for Islamic and Social Studies). Their activities fall into three categories: (l) research, (2) publication and (3) study, education and training. It is interesting to note that they have published books contain of ideas far from being traditional, but some of them offer radical transformation of Islamic understanding and praxis. In this article the writer tries to answer questions on the underlying reasons for their somewhat controversial al activities, their endurance and their traditionality.

 

[Beberapa anak muda di Yogyakarta yang dibesarkan di kalangan Islam "tradisional" keti ka berhadapan dengan persoalan-persoalan zaman yang berubah dengan cepat dan menyadari kekurangan perlengkapan keahlian dan pengetahuan untuk dapat terlibat secara aktif dalam percaturan dunia modern, melakukan berbagai kegiatan yang semula tidak jelas bentuknya, namun kemudian ada di antaranya yang menjadi lembaga atau organisasi yang dapat melakukan kegiatan yang berarti. Di antaranya, yang dikaji dalam tulisan ini adalah kelompok diskusi yang lahir pada tahun 1989Yang terdiri Dari beberapa mahasiswa PMII dari IAIN Sunan Kalijaga, UGM dan UII. Setelah melewati penyaringan alamiah sejalan dengan waktu mereka yang bertahan berhasil membentuk suatu Lembaga yang diberi nama LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial). Ada tiga bidang kegiatan yang mereka geluti, yakni (l) penelitian, (2) penerbitan dan (3) pengkajian, pendidikan dan pelatihan. Yang sangat menarik untuk dilihat adalah bahwa mereka menerbitkan buku-buku (terjemahan, kumpulan artikeVmakalah atau Buku yang memang Diitulis dalam bahasa Indonesia) yang di antaranya mengritik praktek-praktek ajaran Islam. Ini menarik karena mereka dibesarkan di kalangan "tradisional" (atau kolot?) yang selama ini dianggap anti pembaharuan. Pikiran-pikiran yang dituangkan dalam buku-buku yang mereka terbitkan justru memberikan nuansa pembaharuan. Mengapa mereka melakukan Tindakan seperti itu,bagaimana dengan ke-NU-an mereka? Apakah mereka dapat bertahan dalam kegiatan itu? Itulah antara lain yang dibahas dalam tulisan ini.]


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 M Mahasin

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.