Bingkai Teologi Kerukunan Beragama (Kembali Kepada Kitab Suci)

Burhanuddin Daja
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1996.3459.187-195

Abstract


Di suatu malam, 27 Rayab, satu Tahun menjelang hiirah, Muhammad saw diisra'kan Allah dari masiid al Haram di Mekkah al-Mukarramah ke Masird al-Aqsa di Yerusalem dan dari maslid al-Aqsa Nabi naik sampai ke tingkat yang paling tinggi, Arsy Allah, di Sidratul Muntaha. Pada saat itulah Muhammad saw. dapat melihat Allah dengan persepsinya, yang tidak dapat dituturkan dengan lidah atau digambarkan dengan alat peraga apapun. Pengalaman rohaniah yang maha indah, berada diluar jangkauan otak manusia. Saat itulah Muhammad diliputi ketakiuban dan kekaguman luar biasa, berada dalam pangkuan ke Agungan Allah Maha Sempuna, dengan penuh rasa tenang damai. dan menikmati tanpa tara indahnya fana diri dihadapan Allah azza wa jalla. Seorang sufi besar, Abdul Quddus Gangoh dari India berkata: "Itu Muhammad dari negeri Arab naik ke langit yang paling tinggi lalu kembali lagi ke bumi. Demi Allab andai kata aku dapat mencapai langit itu selamanya aku tidak akan mau kembali ke bumi lagi". Memang Abdul Quddus, sufi, mencari kenikmatan untuk diri sendiri Muhammad, Rasul, membawa missi untuk seisi langit dan bumi. Dengan Isra' dan Mir'raj, jiwa dan kepribadian Rasul, yang sungguh kokoh dan kuat itu, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini sampai pada puncak kesempurnaannya, untuk mengembangkan Risalah kenabianny yang terakhir yang sempuma pula, membimbing seluruh umat manusia mencapai hidup Bahagia dalam segala dimensinya.


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 Burhanuddin Daja

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.