Eksistensi dan Pranan Sekolah Dalam Pengembangan Kehidupan Sosial-Politik

Tasman Hamami
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1994.540.25-35

Abstract


Beberapa orang tokoh seperti Ivan Illich dengan karyanya Deschooling Society maupun Paulo Freire sudah meragukan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam mempersiapkan generasi masa depan. Tetapi sebagian besar masyarakat, nampaknya tetap menaruh harapan besar dan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sistem persekolahan sebagai pusat pendidikan. Bahkan ada: semacam kecenderungan bahwa sekolah sebagai taruhan, sementara di sisi lain, seperti sistem pondok pesantren relatif kurang diminati masyarakat jika dibandingkan dengan sekolah. Sikap dan pandangan seperti itu muncul sebagai konsekuensi dari tuntutan perubahan masyarakat yang terjadi. Sebagai masyarakat yang sedang bergerak ke arah kehidupan moderen dihadapkan pada peningkatan tuntutan kebutuhan dasar manusia, seperti sandang, pangan, papan, dan juga kesehatan. Dalam kenyataannya, "orang-orang sekolahan" lebih banyak mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut. Akibatnya, fenomena itu yang juga merupakan fenomena masyarakat moderen telah memusatkan perhatian masyarakat terhadap peranan sekolah. Bahkan kecenderungan seperti itu telah menempatkan harapan masyarakat yang terlalu besar terhadap persekolahan, mereka mengira bahwa sekolah mampu membereskan segala persoalan. Memperhatikan kecenderungan tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk menelaah persoalannya, terutama berkaitan dengan eksistensi dan pranan sekolah dalam prkembangan kehidupan social dan politik.

 


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 Tasman Hamami

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.