Majid Fakhry Tentang Fundamentalisme dan Oksidentalisme

Alef Theria Wasim
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1993.053.81-92

Abstract


Kesan dan kekaguman umat Islam terhadap teknologi dan pengetahuan diantaranya telah melahirkan gerakan pembaharuan baik dalam bentuk modernisasi, reformasi, sekularisasi, maupun revivalisasi dan revitalisasi. Disamping itu fundamentalisme dan oksidentalisme juga muncul sebagai tesa lain. Issu fundamentalisme --yang sebenamya tidak hanya ada dalam Islam saja akan tetapi juga terdapat di beberapa agama besar lain semacam Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha dan bahkan dalam agama Kong Hu Cu -- juga telah menimbulkan rasa gelisah dunia Barat sehingga Barat menaruh perhatian yang cukup serius dan kemudian issu fundamentalisme ditulis oleh beberapa intelektual 1). Diantaranya adalah seorang intelektual Libanon yang berkiprah di dunia Barat, Arab dan Islam yang telah mengemukakan pokok-pokok pikirannya. Dalam kesempatan ini akan dicoba memahami bagaimana pokok-pokok pikiran Majid Fakhry tentang fundamentalisme dan oksidentalisme, yang tertuang dalam artikelnya yang berjudul "The Search for Cultural Identity: Fundamentalism and Occidentalism" dalam Islam The Perenniality of Values, CULTURES, IV, no.1 (The Unesco Press and Ia Baconniere). Menurut Majid Fakhry, pencarian identitas budaya dalam Islam sudah sejak lama dilakukan oleh para pemikir Islam. Dalam pencarian identitas budaya ini mereka melakukan pengisolasian beberapa unsur penting untuk membatasi sikap terhadap masa silam dan terhadap pewarisan budaya (turath)Iain terutama budaya Barat. Ia melihat ada tiga macam sikap dalam menghadapi warisan Islam dan budaya Barat kontemporer yaitu:1. yang dapat digolongkan sebagai "fundamentalisme” 2. yang disebutnya dengan "modernisme", dan 3. yang dimaksudkannya dengan "oksidentalisme". Majid Fakhry memberi komentar terhadap tiga sikap ini; sikap pertama dan kedua bersifat desisif, menentukan dan meyakinkan; dan sikap ketiga seringkali bersifat "sekularis", politis dan teologis. Kecenderungan sekularis ini dipandang bertentangan dengan etos fundamental. Apa, mengapa dan bagaimana "sekularis" dimaksudkan tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Majid Fakhry. Ia menyajikan sikap-sikap tadi secara berurutan dan dengan tekanan-tekanan tertentu.


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 Alef Theria Wasim

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.