Dialog Peradaban menghadapi Era Postmodernisme Sebuah Tinjauan Filosofis-Religius

M. Amin Abdullah
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1993.053.108-126

Abstract


Ketika wilayah perenungan dan pemikiran filosof tentang alam semesta telah diambil alih para ilmuan dalam cabang ilmu-ilmu kealaman 'empiris', juga ketika renungan para tilosof dalam bidang kemanusiaan telah diambil oper oleh para ilmuan sosial, maka orang bertanya-tanya apa manfaat dan jasa yang dapat diberikan oleh "filsafat". Orang meragukan apakah filsafat masih dapat menyumbangkan jasanya dalam era "dominasi" ilmu pengetahuan empiris baik dalam wilayah ilmu-ilmu kealaman maupun dalam ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Bahkan dikalangan pemikiran keagamaan yang tipikal "konservatif', sudah lama filsafat dianggap sebagai suatu hal yang kurang berharga, sehingga tidak lagi patut untuk dipertimbangkan dalam proses pematangan dalam wilayah diskursus keagamaan. Menurut doktrin agama-agama besar di dunia, khususnya yang bersifat monoteistik, "kebenaran" hanya dapat diperoleh lewat "wahyu". Sejauh mana peran akal dalam memahami wahyu, apakah pemahaman dan campuran tangan historisitas kemanusiaan dalam memahami wahyu masuk dalam katagori wahyu itu sendiri ataukah masuk dalam wilayah historisitas pemahaman manusia, kadang diketepikan begitu saja. Ketika peran filsafat --baik dalam hal yang menyangkut Epestimologi, Etika maupun Metafisika-- ditepikan sebegitu rupa, tiba-tiba dalam dasa warsa ke 90-an masyarakat indonesia khususnya dikejutkan dengan istilah "baru" yang disebut-sebut dengan postmodernisme. Ditilik dari segi peristilahan yang muncul kepermukaan, jelas tampak bahwa istilah tersebut erat terkait dengan khazanah filsafat, tidak beda dari istilah-istilah seperti naturalisme, supernaturalisme, determinisme, modernisme, historisisme dan lain sebagainya. Jika peristilahan filsafat pada umumnya, hanya terbatas pada dataran kognitif, yang sering kali terlampau abstrak, sehingga sulit untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas, maka lain halnya dengan istilah postmodernisme. Istilah postmodernisme, yang sebenarnya juga ada pada dataran kognitif-abstrak, namun kemunculannya pada masa sekarang ini disertai dengan bukti sejarah yang kongkrit, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas.


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 M. Amin Abdullah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.