Konsep Tuhan Menurut Syah Waliyullah Dihlawi

Abu Risman Risman
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1993.051.51-65

Abstract


dasarnya teologi itu berada di luar batas kewenangan manusia dan melampaui kemampuan rasional orang: “Tuhan itu terlalu agung untuk dipersamakan dengan apa yang terpikirkan maupun yang terdampak” (H.B.I.63). oleh karena itu maka ”nabi tidak bisa mengajukan  orang-orang agar memikirkan Esensi (ẓāt) dan atribut (ṣifat) Tuhan… Nabi Muhammad saw, hanyalah terus menganjurkan mereka supaya meminta syafaat kepada barakah dan kemahakuasaan Tuhan (H.B.I, 86). Meskipun esensi tuhan itu benar-benar diluar tanggapan akal (idrāk) manusia, namun mungkinlah untuk mendapatkan suatu pengetahuaan (‘irfān) tentang Nama-Nama Tuhan melalu ẓawq (perasaan intuitif), sebagaimana syāh Waliyullāh dapat memastikan dari pengalaman pribadinya. Kemudian dengan memakai suatu manifestasi esensi Tuhan, yang idrāk tidak mampu menerima, suatu pengetahuaan diperoleh dalam misteri ini. “ini merupakan suatu pengalaman yang sama sekali menakjubkan” demikianlah orang suci delhi memberikan kesaksian (khizānah). Keberuntungan yang luar biasa karena dimungkinkan memperoleh pengetahuan tentang setiap nama Tuhan itu biasanya diberikan kepada orang-orang ‘arif (ahli sūfi) (Tafh, I,15).

 


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 Abu Risman Risman

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.