Filsafat Ilmu dan Studi Agama (Ulasan Terhadap Tulisan Frank Whaling, “Additional Note on the Philosophy of Science and the Study of Religion)

R Romdon
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1992.050.72-84

Abstract


Walaupun bermacam-macam, namun jelas bahwa apa yang dinamakan metode studi agama itu ada, baik metode studi agama yang belum ilmiah maupun metode studi agama yang sudah ilmiah. Memang baru lebih kurang pertengahan abad 19 Masehi studi agama itu dituntut untuk dihargai sebagai studi yang ilmiah dengan menggunakan metode perbandingn. Orang yang pertama-tama mengklaim studi agama dapat menjadi studi ilmiah adalah seorang sarjana Jerman yang bemama F. Max Muller (1823-1900 M.) dan studi agama yang ilmiah itu di namakan Ilmu agama atau Science of Religion untuk membedakannya dengan studi agama yang lain yaitu teologi filsafat. Memang ada Sarjana yaitu M. Kitagawa yang memisahkan studi agama yang dinamakan Science of Religion itu dengan studi agama yang nornatif dan studi agama yang deskriptif. Studi agama yang normatif itu katanya adalah filsafat dan teologi, dan studi agama yang deskriptif itu seperti misalnya studi antropologi dan sosiologi terhadap agama, jadi studi ilmu-ilmu deskriptif terhadap agama. Sedang studi agama yang dinamakan Ilmu Agama atau Science of Religion itu lain lagi, bukan yang normatif dan bukan pula yang deskriptif. Ilmu yang demikian itu dinamakannya Ilmu Agama atau Science of Religion atau History of Religion, atau Comparative of Religion atau dapat juga dinamakan Phenomenologi of Religion. Metode studi agama yang Science of Religion demikian itu tidak normatif dan tidak pula deskriptif, tetapi religio-scientifical.


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 R Romdon

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.