Hermeneutical Problems of Religious Language

Komaruddin Hidayat
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.2000.381.1-13

Abstract


Artikel ini membahas masalah-masalah hermeneutic bahasa agama. Hermeneutik merupakan tradisi berpikir atau refleksi filosofis yang mencoba menjelaskan konsep pemahaman dengan medium bahasa berupa penjelasan, penerjemahan, atau pengungkapan kembali. Karena itu, salah satu masalah epistemologis dalam hermeneutik adalah bagaimana mengungkapkan arti sebenamya dari teks dan para pembacanya dapat memahaminya dengan benar.  Peran interpretasi harus mengubah sesuatu yang tidak dikenal, jauh dan samar menjadi sesuatu yang nyata, dekat dan jelas. Tidak ada teks yang bebas dari bias sosiologis dan psikologis. Karena itu, salah satu masalah epistemologis adalah apa pembenaran bahwa suatu teks tertentu mengungkapkan kebenaran dan di sisi lain dipahami oleh para pembacanya?  Artikel ini menggunakan hermeneutik Gadamerian karena, pertama,  pilihan subyektif penulis; kedua, teori hermeneutik dapat memahaman al-Qur'an dalam pandangan baru yang lebih kaya. Untuk memahami al-Qur'an,  pembaca akan dituntun dulu oleh bahasa, termasuk tata bahasa dan semiotiknya. Tuntunan lain adalah peta historis dan psikologis Muhammad s.a.w .. Setelah itu, pembaca harus berinteraksi dengan kandungan teks. Hermeneutik menganjurkan antara "pikiran al-Qur'an" dan "pikiran pembaca" untuk saling mendengarkan, toleransi dan respek lalu dilanjutkan dengan tahap sintesis. Paling tidak ada empat jenis interpretasi: Pertama, interpretasi sebagai penafsiran makna yang unik. Kedua, interpretasi sebagai penafsiran makna kedua dengan menambah arti literal yang pertama. Ketiga, interpretasi sebagai makna tambahan, yaitu, menafsirkan teks yang selalu mempunyai makna yang beragam. Keempat, interpretasi yang bukan berupa menafsirkan tapi menemukan makna. Memahami pemikiran Gadamerian bukanlah mengambil obyek dari luar diri kita tapi dari dalam diri kita. Bahasa dan tradisi adalah rumah eksistensi kita. ini, kita dapat menyatakan bahwa al-Qur'an adalah penjelmaan pikiran Tuhan dalam sejarah, mengunjungi manusia dan mengajak mereka untuk mengadakan dialog dan menjelajahi sejarah. Pertanyaan dan jawaban dialektis menunjukkan hubungan timbal balik sebagaimana percakapan sebagai model fenomena herrneneutik. Teks berbicara seperti lawan bicara dalam dialog. Hal ini juga berlaku dalam memahami al-Qur'an. Untuk memahami al-Qur' an yang diturunkan pada masa lalu dan dalam budaya asing berarti mengundangnya ke dalam konteks kita dan kemudian membangun perpaduan atau berbagi pandangan untuk menatap masa depan.


Full Text:

PDF




Copyright (c) 2022 Komaruddin Hidayat

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.